Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Narasi

Muallim Tampa—Tomy Satria Yulianto dan Bulukumba

×

Muallim Tampa—Tomy Satria Yulianto dan Bulukumba

Sebarkan artikel ini
klikkiri.co
Syamsul Bahri Majjaga.
Example 325x300
Setelah 14  Februari, Warga Bulukumba menebar spekulasi. Beberapa tokoh lokal potensial dengan sumber daya mentereng “dikebiri” karena berpotensi menjadi penantang di Pemilukada Bulukumba. Benarkah? 

 —- Syamsul Bahri Majjaga menulis :

Kabupaten Bulukumba yang populasi jumlah penduduknya mencapai kurang lebih 350 ribu jiwa, pada pemilu 2024 ini adalah dipastikan tidak satupun figur putra daerahnya yang bertarung di pemilu yang lolos ke Senayan. 

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Masyarakat pun berspekulasi, dengan buka suara bahwa situasi ini, tidak lain adalah upaya memangkas sumber daya potensial untuk berkembang dan menjadi penantang bagi sekelompok warga yang tidak ingin dominasi di level Bulukumba terganggu di kemudian hari.

Tidak peduli apakah dia mantan Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto atau Pengacara Muda Muallim Tampa, intinya tidak ada ruang bagi mereka yang berpotensi memberi ancaman.

Sebelumnya Muallim Tampa dalam beberapa status di postingan media sosialnya telah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat Bulukumba, yang telah memberinya ruang untuk mengekspresikan naluri luhur ke-Bulukumba-anya di pemilu. Pun Tomy Satria Yulianto dengan ekspresi bangga bahwa dengan segala keterbatasan yang dimilikinya dirinya menaruh bangga yang melangit kepada seluruh masyarakat Bulukumba yang telah memilihnya  karena menurutnya yang terpenting dalam proses politik adalah bagaimana syahadat ke-Bulukumba-an diterjemahkan dengan sangat apik di tengah ruang kompetisi yang brutal.

Seruan dan harapan dari keduanya menurut saya adalah draf proposal “rewicara wacana”  dalam ruang sosial warga Bulukumba untuk  memasuki tahapan pemilukada Bulukumba di tahun 2024.  

Bahwa mendorong nilai luhur ke-Bulukumba-an,  pesan-pesan kultur yang menjadi prinsip dasar ke-Bulukumba-an, jangan sampai hilang dalam politik Pemilukada.  

Bahwa jika situasi politik tanpa moral kultur dan prinsip kewargaan yang kuat sudah cukup sampai di pemilu legislatif. Dan buatlah kami (mereka berdua) yang menjadi warga terakhir yang mengalami itu. 

Sudah terlalu banyak yang dikorbankan di pemilu ini. Katanya ASN yang “dipaksa” berpihak, dugaannya kepala desa yang tidak diberi opsi penuh selain diarahkan untuk memilih satu.  Serta  praktik-praktik lain yang mendistorsi prinsip dasar kita sebagai warga Bulukumba yang “Mali siparappe, tallang sipaonang”. Apakah hal itu benar terjadi, entahlah. Yang pasti saya, yang mungkin bersama banyak orang Bulukumba dan kedua figur tersebut saat ini telah mengkonsumsi kabar tersebut. 

Dan tentunya ingin melihat perilaku tersebut berakhir. Sebab saat ini terdapat kebutuhan yang sangat mendesak di Bulukumba saat ini. Dan Pemilukada menjadi momen yang sangat krusial untuk kita semua lepas dari sandera budaya. 

MTP – TSY dan Bulukumba

Jauh sebelum pemilu 2024 bergulir, Muallim Tampa menjadikan Bulukumba sebagai Bahasa Ibu meskipun beliau semasa kecil berdomisili di Kabupaten Sinjai, dalam ekspresi identitas dirinya selalu menempatkan Bulukumba dan kekuatan pesan kulturnya sebagai dasar moralitas dirinya. Bahkan sampai saat ini rumah warisan ibunya di desa Bonto Bulaeng, Kecamatan Bulukumpa, tetap kokoh berdiri. 

Hal yang sama, Tomy Satria Yulianto, tanpa penjelasan panjang, tapak jalan sejarah mencatat dirinya sebagai penggambaran manusia Bulukumba modern. 

Karena itu tidak salah dalam setiap kesempatan baik sebelum, atau saat pemilu. Muallim Tampa dan Tomy Satria Yulianto sangat nampak baik dari  orasi, ekspresi wajah dan suara harapannya selalu menomorsatukan dirinya dan Bulukumba sebagai satu bahasa. Karir dan pencapaiannya, sebagai satu gambaran karakter manusia Bulukumba,  dirinya dan harapannya adalah Satu KITA Bulukumba.

Untuk semua itu, saya pribadi sangat takjub,  ada berapa banyak orang Bulukumba yang menginginkan Bulukumba sebagai kesejatian. Berapa banyak wilayah yang membutuhkan  kesejatian budaya sebagai ekspresi politik. Pesan saya adalah Anda tidak akan pernah dibuang. Bulukumba berdiri bersama Anda dan kita bekerja bersama untuk Bulukumba yang kita citakan, Bulukumba yang adil merata, dan warga yang sejahtera berbudaya.

“DiKebiri” Karena Berpotensi di 2024

Sama seperti putra Bulukumba yang lainnya, saya yakin Muallim Tampa dan Tomy Satria Yulianto mengharapkan adanya pemihakan yang setara  bagi setiap warga Bulukumba yang berkompetisi di level nasional dan seruan adil terbuka dari pihak yang memungkinkan berkemampuan memiliki perangkat kebijakan dan pengaruh yang kuat pada kekuatan infrastruktur lokal untuk mempengaruhi ruang wacana sosial politik di level Bulukumba.  

Bukan malah memobilisasi pemihakan kepada satu orang. Dan entah sadar itu tidak. Hal tersebut  mencederai nurani sosial, tapi benarkah pemihakan kepada satu orang dan mengabaikan sumber daya dan potensi figur lainnya karena hal tersebut. Entahlah!

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri Muallim Tampa  dan Tomy Satria Yulianto baik dirinya sebagai politisi muda maupun sebagai sebagai profesi pekerjaannya, dilepaskan keterkaitannya dengan Bulukumba, dirinya (Mereka akan tetap dieluk-elukan banyak lapisan masyarakat Bulukumba karena kekuatan karakter dan misi ke-Bulukumba-annya yang terpotret kuat. 

Muallim Tampa tidak segan menyinggung sumber daya manusia Bulukumba yang belum diberdayakan secara maksimal. Posisi sumber daya budaya dan alam yang belum tereksploitasi dengan benar. Bahkan secara terbuka bersedia lahir batin dimanfaatkan baik diri, jaringan dan sumber dayanya untuk pembangunan Bulukumba yang lebih baik dan merata. 

Saat ini semua itu mungkin hanya tinggal metafora. Saat itu Bulukumba, 14 Februari 2024 bersama figur putra Bulukumba lainnya yang bertarung di daerah pemilihan Sulawesi Selatan 2  tidak berada dalam situasi yang baik. Dari banyak versi, spekulasi yang beredar luas di masyarakat dengan beberapa berita yang beredar di media sosial dari beberapa variabel ketidak-terpilihnya salah satunya karena di kampung ibu – bapaknya. Di tanah kakek neneknya hidup bersahaja, atas nama hak untuk kampung, mereka tidak mendapatkan yang semestinya didapatkannya. Bahkan sepertinya dalam dugaan sementara saya,  semua itu karena skema skenario yang menakuti dan menyingkirkan dengan tujuan membunuh potensi untuk tidak sampai di Bulukumba 2024   Wallahu A’lam Bishawab.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300