Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Akademisi Unismuh: Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah dan IHSG

×

Akademisi Unismuh: Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah dan IHSG

Sebarkan artikel ini
Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. M. Yusuf Alfian Rendra Anggoro, S.E., M.M., CHCO.
Example 325x300

klikkiri.co – Pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tidak terjadi secara terpisah, melainkan dipengaruhi kuat oleh dinamika ekonomi global yang tengah berlangsung.

Akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. M. Yusuf Alfian Rendra Anggoro, S.E., M.M., CHCO yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), menyebut faktor eksternal masih menjadi pemicu utama, terutama kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

“Ketika suku bunga di Amerika Serikat tinggi, arus modal cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. Investor akan mencari instrumen yang lebih aman, sehingga IHSG mengalami tekanan jual dan rupiah ikut melemah karena meningkatnya permintaan dolar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketidakstabilan sentimen global turut memperkuat tekanan terhadap pasar keuangan domestik, baik dari sisi nilai tukar maupun pasar saham.

Menurutnya, dampak kondisi tersebut mulai dirasakan di sektor riil. Pelemahan rupiah menyebabkan biaya impor meningkat, khususnya untuk bahan baku dan barang modal.

“Kondisi ini tentu menekan pelaku usaha, terutama UMKM dan industri yang masih bergantung pada impor. Dalam jangka lanjut, hal ini bisa memicu kenaikan harga barang atau inflasi dan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG juga memengaruhi tingkat kepercayaan investor. Perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.

Namun demikian, ia menilai terdapat sisi positif dari pelemahan rupiah, terutama bagi sektor ekspor. Nilai tukar yang melemah membuat produk Indonesia, khususnya komoditas, menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Dalam situasi ini, Dr. Yusuf menegaskan pentingnya peran pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Bank Indonesia harus mampu menjaga stabilitas rupiah tanpa terlalu menekan pertumbuhan ekonomi. Sementara pemerintah perlu mendorong penguatan sektor domestik agar tidak terlalu bergantung pada impor,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa jika kondisi ini tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat meluas hingga ke daerah.

“Jika tidak diantisipasi, efeknya bisa panjang, mulai dari penurunan daya beli masyarakat hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi, termasuk di level daerah,” pungkasnya. (*)

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300