Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Narasi

Distribusi Kader NU: Antara Lokomotif, Gerbong, dan Rel yang Kehilangan Arah

×

Distribusi Kader NU: Antara Lokomotif, Gerbong, dan Rel yang Kehilangan Arah

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi
Example 325x300

Oleh. Makmur Idrus.
Kader Ansor NU

Kader NU hari ini ada di mana-mana. Ada di pemerintahan, kementerian, legislatif, kampus, pesantren, dunia usaha, lembaga sosial, profesi hukum, media, hingga pasar rakyat. Ada yang menjadi menteri, anggota DPR, kepala daerah, akademisi, pengusaha, ulama, aktivis, guru, petani, nelayan, bahkan penjual ikan.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Itulah kekuatan NU: luas, cair, dan hidup di semua lapisan masyarakat.

Tetapi pertanyaan besarnya adalah: apakah distribusi kader NU sudah berjalan dengan desain besar, atau kader NU selama ini lebih banyak mencari jalan sendiri?

Ibarat kereta api, NU memiliki lokomotif, gerbong, dan rel. Lokomotif adalah kepemimpinan dan arah perjuangan. Gerbong adalah kader-kader yang bergerak di berbagai sektor. Rel adalah nilai, garis perjuangan, sanad keilmuan, dan khidmah kepada umat.

Masalahnya, kalau lokomotif tidak jelas arahnya, gerbong bisa saling tarik. Kalau relnya tidak terawat, perjalanan bisa terganggu. Dan kalau setiap gerbong merasa paling penting, kereta besar bernama NU bisa kehilangan kecepatan sejarahnya.

NU bukan organisasi kecil. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, dan warga yang mengidentifikasi diri sebagai Nahdliyin disebut berada di kisaran lebih dari separuh penduduk Indonesia, NU sesungguhnya adalah kekuatan sosial-keagamaan yang sangat besar. Tetapi kebesaran jumlah tidak otomatis melahirkan kekuatan strategis apabila tidak dikelola dengan peta kaderisasi yang jelas.

Di sinilah titik lemahnya.

Selama ini banyak kader NU tumbuh bukan karena sistem distribusi kader yang rapi, tetapi karena keberanian pribadi, jaringan sendiri, dan kemampuan bertahan di tengah kerasnya medan sosial-politik. Ada kader yang berhasil menjadi pejabat, akademisi, politisi, pengusaha, dan tokoh publik, tetapi seringkali keberhasilan itu bukan hasil desain organisasi, melainkan hasil perjuangan masing-masing.

Lebih memprihatinkan lagi, di daerah-daerah tertentu, termasuk Sulawesi Selatan, kritik tajam sering dianggap permusuhan. Orang yang memberi masukan dianggap lawan. Kader yang berani berpikir dianggap mengganggu. Anak muda yang potensial kadang tidak didorong, tetapi justru dicurigai sebagai ancaman.

Padahal, seorang senior tidak dianggap berhasil hanya karena lama menduduki posisi. Senior yang berhasil adalah senior yang mampu melahirkan kader lebih hebat, lebih tinggi, dan lebih bermanfaat daripada dirinya sendiri.

Senior yang takut kadernya naik, berarti belum selesai dengan dirinya.

Kalau kader muda naik, itu bukan ancaman. Itu keberhasilan kaderisasi.
Kalau kader muda tampil, itu bukan saingan. Itu bukti bahwa mata air NU masih mengalir.
Kalau kader muda lebih maju, senior tidak perlu takut kehilangan panggung. Justru di situlah kehormatan seorang pembina.

Masalah NU hari ini bukan kekurangan kader. NU punya banyak kader. Masalahnya adalah belum adanya road map kader NU yang kuat, baik untuk kader struktural maupun kader non-struktural.

Kader struktural dibutuhkan untuk menjaga organisasi, administrasi, konsolidasi, dan garis perjuangan jam’iyah. Tetapi kader non-struktural juga tidak kalah penting. Mereka berada di pemerintahan, parlemen, kampus, dunia usaha, media, lembaga profesi, dan ruang publik lainnya. Mereka adalah wajah NU di luar kantor NU.

Karena itu NU tidak boleh hanya sibuk mengurus siapa menjadi ketua, sekretaris, bendahara, atau pengurus lembaga. NU juga harus bertanya:

Di mana kader kita di birokrasi?
Di mana kader kita di kampus?
Di mana kader kita di dunia usaha?
Di mana kader kita di media?
Di mana kader kita di profesi hukum?
Di mana kader kita di lembaga sosial?
Di mana kader muda kita lima atau sepuluh tahun ke depan?

Tanpa peta itu, kader NU akan berjalan sendiri-sendiri. Yang kuat akan naik sendiri. Yang tidak punya jaringan akan tertinggal. Yang kritis akan dijauhi. Yang potensial akan dicurigai. Yang dekat dengan lingkaran akan dipakai. Yang berbeda pendapat akan dianggap musuh.

Ini penyakit lama yang harus disembuhkan.

Mengurus NU harus melepaskan ego sektoral dan ego pribadi. NU bukan milik satu kelompok, satu keluarga, satu mazhab politik, satu lingkaran, atau satu generasi. NU adalah amanah besar para pendiri, terutama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan para muassis yang telah meletakkan dasar perjuangan dengan ilmu, keikhlasan, dan pengorbanan.

Karena itu, solusi yang harus dibangun adalah:

Pertama, NU perlu membuat database kader di semua sektor. Bukan hanya pengurus cabang dan ranting, tetapi juga kader NU yang ada di pemerintahan, legislatif, kampus, pesantren, dunia usaha, media, profesi hukum, organisasi pemuda, dan komunitas sosial.

Kedua, NU perlu menyusun road map kaderisasi lintas generasi. IPNU-IPPNU, PMII, GP Ansor, Fatayat, Muslimat, hingga struktur NU harus saling terhubung. Jangan sampai kader pelajar NU masuk kampus lalu hilang arah. Jangan sampai kader PMII selesai kuliah lalu tidak tahu harus berkhidmah di mana. Jangan sampai kader Ansor matang di lapangan, tetapi tidak disiapkan masuk ruang kebijakan.

Ketiga, NU perlu membangun budaya saling mendukung. Kritik jangan selalu dianggap perlawanan. Perbedaan pandangan jangan langsung dimaknai sebagai pembangkangan. Dalam organisasi besar, kritik adalah alarm. Kalau alarm dimusuhi, kebakaran bisa terlambat diketahui.

Keempat, senior NU harus menjadi pembuka jalan, bukan penjaga pintu. Senior harus menjadi penuntun, bukan penghalang. Tugas senior bukan mempertahankan posisi selama mungkin, tetapi memastikan kader setelahnya lebih siap, lebih kuat, dan lebih bermartabat.

Kelima, kader muda NU harus diberi ruang belajar, ruang tampil, dan ruang salah. Kalau setiap kader muda yang muncul langsung dicurigai, maka NU akan kehilangan masa depan. Organisasi besar tidak boleh takut pada kader mudanya sendiri.

Keenam, NU perlu membangun forum kader non-struktural. Banyak kader NU tidak masuk struktur, tetapi punya pengaruh besar di luar. Mereka harus dirangkul. Jangan hanya dicari saat butuh bantuan, lalu dilupakan setelah acara selesai.

Ketujuh, distribusi kader NU harus berbasis kompetensi dan akhlak, bukan semata kedekatan. Orang yang ahli harus ditempatkan sesuai bidangnya. Yang punya kapasitas diberi ruang. Yang punya integritas dijaga. Yang punya loyalitas kepada nilai NU harus diperkuat.

NU besar bukan hanya karena jumlah warganya. NU besar karena sanadnya, ilmunya, pesantrennya, akhlaknya, dan khidmahnya kepada umat dan bangsa.

Maka pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah:
Apakah kader NU akan terus dibiarkan mencari jalan sendiri?
Atau NU mulai membangun jalan besar agar kader-kadernya bergerak dalam satu arah perjuangan?

Kalau NU ingin menjadi kekuatan besar menuju Indonesia Emas, maka kader NU tidak cukup hanya banyak. Kader NU harus dipetakan, disiapkan, didistribusikan, dan disupport.

Karena dalam jam’iyah sebesar NU, yang dibutuhkan bukan hanya orang-orang yang ingin duduk di depan. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang ikhlas menjadi lokomotif, kuat menjadi gerbong, dan istiqamah menjaga rel perjuangan.

Mengurus NU bukan soal siapa paling lama berada di dalam.
Mengurus NU adalah soal siapa paling ikhlas menjaga amanah para pendiri.

Sebab NU bukan warisan pribadi.
NU adalah amanah umat.
NU adalah amanah para ulama.
NU adalah amanah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Dan amanah tidak boleh dikalahkan oleh ego.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300