Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Dari Neuroleadership hingga AI, Taruna Ikrar Bicara Masa Depan Kedokteran di universitas Tsinghua China

×

Dari Neuroleadership hingga AI, Taruna Ikrar Bicara Masa Depan Kedokteran di universitas Tsinghua China

Sebarkan artikel ini
Prof. Taruna Ikrar bawa gagasan tentang Artificial Intelligence (AI), neuroleadership, dan masa depan teknologi kedokteran ke panggung internasional dalam AI + New Medical Technology Conference di universitas tsinghua Beijing, Tiongkok.
Example 325x300

klikkiri.co — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, membawa gagasan tentang Artificial Intelligence (AI), neuroleadership, dan masa depan teknologi kedokteran ke panggung internasional dalam AI + New Medical Technology Conference di universitas tsinghua Beijing, Tiongkok.

Dalam paparannya yang berlangsung Taruna Ikrar memaparkan perkembangan AI dan teknologi kedokteran baru serta implikasinya terhadap transformasi pelayanan kesehatan, penelitian biomedis, pengembangan obat, hingga masa depan regulasi kesehatan.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI dalam precision medicine, teknologi diagnostik, penemuan dan pengembangan obat, terapi berbasis sel dan gen, hingga penggunaan data kesehatan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis.

“Kita sedang memasuki era ketika kedokteran tidak lagi hanya berbicara mengenai bagaimana mengobati penyakit, tetapi bagaimana teknologi membantu kita memahami manusia secara lebih presisi. Artificial intelligence akan menjadi salah satu kekuatan penting yang mengubah penelitian, diagnosis, pengembangan terapi, hingga cara regulator bekerja,” ujar Taruna Ikrar.

Selain membahas AI dan teknologi kedokteran masa depan, Taruna Ikrar turut memaparkan gagasan dalam buku Neuroleadership yang menghubungkan ilmu neurosains dengan konsep kepemimpinan modern.

Neuroleadership melihat kepemimpinan dari perspektif bagaimana otak manusia bekerja mulai dari proses pengambilan keputusan, pengelolaan emosi dan tekanan, kemampuan beradaptasi, empati, hingga pembentukan perilaku dalam organisasi.

Menurut Taruna Ikrar, perkembangan AI justru membuat dimensi manusia dalam kepemimpinan semakin penting. Ketika mesin semakin mampu mengolah data dan membantu pengambilan keputusan, manusia tetap memegang peran fundamental dalam menentukan nilai, etika, empati, dan tanggung jawab atas keputusan tersebut.

“Semakin cerdas teknologi yang kita bangun, semakin penting pula manusia memahami otaknya sendiri. AI dapat memperkuat kemampuan manusia, tetapi empati, nilai, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab tetap berada pada manusia. Di titik inilah neuroleadership menjadi semakin relevan,” tegasnya.

Ia menilai neuroleadership tidak semata-mata berbicara tentang teori kepemimpinan, tetapi menawarkan pendekatan berbasis sains untuk memahami bagaimana seorang pemimpin berpikir dan mengambil keputusan, terutama ketika menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan perubahan yang berlangsung cepat.

Kehadiran Indonesia dalam forum di Beijing tersebut juga membawa perspektif regulator. Taruna Ikrar menekankan bahwa perkembangan AI, bioteknologi, serta teknologi kedokteran baru perlu diimbangi dengan regulasi yang adaptif, berbasis bukti ilmiah, dan tetap menempatkan keselamatan pasien serta perlindungan masyarakat sebagai prioritas.

Menurutnya, regulator menghadapi tantangan baru karena kecepatan perkembangan teknologi sering kali jauh melampaui pola regulasi konvensional. Karena itu, regulator masa depan tidak cukup hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga harus memiliki kapasitas ilmiah untuk memahami inovasi dan membangun kerangka regulasi yang mampu merespons perkembangan teknologi.

“Regulasi tidak boleh menjadi penghambat inovasi, tetapi inovasi juga tidak boleh berjalan tanpa memastikan keamanan, mutu, khasiat, serta perlindungan masyarakat. Di sinilah regulator harus mampu bergerak adaptif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan,” kata Taruna Ikrar.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa perkembangan teknologi kesehatan dunia juga harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat riset, inovasi, sumber daya manusia, serta ekosistem regulasi agar tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan negara lain.

“Masa depan kedokteran adalah kolaborasi antara kecerdasan manusia, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan regulasi yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus menjadi bagian dari ekosistem yang ikut meneliti, mengembangkan, mengatur, dan menentukan arah teknologi kesehatan masa depan,” pungkas Taruna Ikrar.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300