Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Anak Bukan Proyek Prestasi: Reyhanani Bahar Syamsul Dorong Peran Guru sebagai Murabbi di Sekolah Islam Cendekia Muda

×

Anak Bukan Proyek Prestasi: Reyhanani Bahar Syamsul Dorong Peran Guru sebagai Murabbi di Sekolah Islam Cendekia Muda

Sebarkan artikel ini
SD Islam Cendekia Muda menggelar seminar parenting bertajuk Beyond Academics: Preparing Children for School di Jasmin Ballroom Hotel Claro, Jalan A.P. Pettarani No. 03, Makassar, Ahad (15/2/2026).
Example 325x300

klikkiri.co — SD Islam Cendekia Muda menggelar seminar parenting bertajuk Beyond Academics: Preparing Children for School di Jasmin Ballroom Hotel Claro, Jalan A.P. Pettarani No. 03, Makassar, Ahad (15/2/2026) pukul 09.00–12.00 WITA. Kegiatan ini bertujuan membantu orang tua mempersiapkan anak memasuki dunia sekolah secara menyeluruh, tidak terbatas pada aspek akademik semata.

Seminar menghadirkan Founder Cendekia Muda School, Ir. Reyhanani Bahar Syamsul, M.Pd., serta psikolog anak Titin Florentina Purwasetiawatik, S.Psi., M.Psi. Acara dipandu oleh Leila Ratnasari, S.Sos., M.I.Kom., C.T., pelatih bersertifikasi BNSP dan pembicara umum.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Selain sesi talkshow, kegiatan ini juga diisi dengan sharing interaktif, tes kesiapan sekolah, serta screening bagi anak dengan kebutuhan khusus. Konsep Beyond Academics menekankan bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga karakter, kemandirian, serta kesiapan emosional dan spiritualnya.

Ukuran Siap Sekolah: Bukan Sekadar Calistung, tetapi Iman

Dalam pemaparannya, Reyhanani menjelaskan bahwa Cendekia Muda School mengusung pendekatan Allah-Centered Education, yakni pendidikan yang menempatkan iman sebagai fondasi utama sebelum keterampilan akademik.

Menurutnya, banyak orang tua masih mengukur kesiapan sekolah dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Padahal, dalam perspektif pendidikan berpusat pada Allah, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah kesiapan anak bertumbuh sebagai hamba Allah.

“Dalam Allah-Centered Education, pertanyaannya berubah menjadi: apakah anak saya sudah siap bertumbuh sebagai hamba Allah?” ujar Reyhanani.

Ia menegaskan, kesiapan sekolah mencakup rasa aman, regulasi emosi, kemampuan sosial, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, serta keyakinan kepada Allah. Karakter, menurutnya, lahir dari belief system yang benar.

“Character building dimulai dari belief system. Keimanan yang benar tentang Allah sebagai Rabb, Ilah, dan Malik. Karakter lahir dari keyakinan yang benar tentang Allah,” jelasnya.

Pendidikan sebagai Ibadah, Guru sebagai Murabbi

Reyhanani juga menekankan perubahan paradigma pendidikan di lingkungan sekolahnya. Anak bukanlah “proyek prestasi”, melainkan amanah. Guru tidak sekadar pengajar, tetapi murabbi yang membersamai pertumbuhan anak.

“Pendidikan bukan kompetisi, pendidikan adalah ibadah,” tegasnya.

Cendekia Muda menerapkan pendekatan holistik dengan membangun fondasi emosi dan karakter terlebih dahulu tanpa mempercepat fase perkembangan anak. Bermain diposisikan sebagai stimulasi utama, khususnya pada jenjang TK dan SD.

Pembelajaran dirancang secara otentik (authentic learning), di mana anak belajar melalui proses memahami hingga menghasilkan karya.

“Pemahaman yang utuh terlihat dari kemampuan menghasilkan karya,” katanya.

Dalam sistem penilaian, sekolah menerapkan authentic assessment yang tidak sekadar menilai benar atau salah, tetapi juga proses berpikir dan pemecahan masalah yang kontekstual.

“Assessment menjadi refleksi, bukan tekanan,” ujarnya.

Program lintas bidang studi diintegrasikan melalui Project Day dan Exploration Day untuk melatih kolaborasi dan problem solving.

“Anak tidak belajar mata pelajaran. Anak belajar kehidupan,” pungkas Reyhanani.

Transisi ke SD: Tantangan Besar bagi Anak dan Orang Tua

Sementara itu, psikolog anak Titin Florentina Purwasetiawatik menjelaskan bahwa kesiapan sekolah memang bersifat beyond academics karena masuk SD merupakan salah satu fase transisi terbesar dalam masa kanak-kanak.

Menurutnya, perbedaan signifikan antara prasekolah dan SD terletak pada orientasi belajar yang lebih terstruktur, adanya penilaian, konsekuensi, serta tuntutan konsentrasi dan kepatuhan pada aturan.

“SD adalah pendidikan formal pertama. Anak perlu konsentrasi, mengikuti aturan, dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya,” paparnya.

Ia menggambarkan dinamika hari-hari awal sekolah yang kerap diwarnai tangisan, kecemasan berpisah dari orang tua, hingga adaptasi emosional. Respons orang tua pun beragam—dari menunggu di pekarangan hingga ikut masuk kelas.

Perasaan orang tua, lanjutnya, sering kali campur aduk antara bangga, haru, dan cemas.

Kesiapan Sekolah Bersifat Holistik

Titin menegaskan kesiapan sekolah mencakup kematangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Bahkan, kesiapan sosial-emosional dinilai lebih prediktif terhadap keberhasilan akademik jangka panjang.

Ia memaparkan tiga aspek utama kesiapan sekolah:

  1. Aspek fisik-motorik: motorik kasar dan halus, koordinasi mata-tangan, serta stamina untuk mengikuti aktivitas 4–5 jam di sekolah.
  2. Aspek kognitif: kemampuan bahasa, memori, pemecahan masalah, rasa ingin tahu, serta kemampuan memahami instruksi.
  3. Aspek sosial-emosional: kemampuan berpisah dari orang tua, berinteraksi dan bekerja sama, mengelola emosi, mengikuti aturan, serta kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Indikator anak siap sekolah antara lain mengetahui identitas diri, mampu fokus 10–15 menit, mengikuti instruksi dua hingga tiga langkah, serta mampu bermain dan berkomunikasi dengan teman sebaya.

Peran Orang Tua: Stimulasi Lewat Bermain

Titin menekankan pentingnya stimulasi melalui bermain, bukan latihan akademik berlebihan. Orang tua dianjurkan melatih kemandirian anak, membiasakan rutinitas terstruktur, membacakan buku cerita, serta mengajarkan regulasi emosi dengan validasi perasaan.

Hal yang perlu dihindari, menurutnya, antara lain memaksakan calistung terlalu dini, membandingkan anak dengan teman sebaya, menakut-nakuti soal sekolah, dan bersikap terlalu protektif.

Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, peran pengasuhan orang tua tidak dapat tergantikan. Ia juga mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an tentang tanggung jawab menyiapkan generasi kuat dan menyerahkan hidayah kepada Allah.

“Kesiapan sekolah itu holistik. Akademik penting, tetapi kesiapan sosial-emosional sama krusialnya. Mari persiapkan anak dengan cinta dan kesabaran,” tutupnya.

Tentang Cendekia Muda School

Cendekia Muda School merupakan lembaga pendidikan Islam yang mengusung pendekatan Allah-Centered Education dengan fokus pada pembentukan belief system sebagai pondasi karakter.

Pembelajaran dirancang secara holistik melalui pendampingan hangat, pembelajaran otentik, penilaian reflektif, serta program terintegrasi seperti Project Day dan Exploration Day, guna menumbuhkan iman, akhlak, emosi, sosial, dan kompetensi akademik secara seimbang.

“Pendidikan berpusat pada Allah membangun iman, emosi, dan karakter sebelum keterampilan,” jelas Founder Sekolah Islam Cendekia Muda, Ir. Reyhanani Bahar Syamsul.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300