Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Narasi

WALHI Sulsel Desak Vale Indonesia Hentikan Eksplorasi Tambang Nikel Blok Tanamalia

×

WALHI Sulsel Desak Vale Indonesia Hentikan Eksplorasi Tambang Nikel Blok Tanamalia

Sebarkan artikel ini
klikkiri.co
Alat berat PT. Vale Indonesia eksplorasi di Tanamalia. (*)
Example 325x300

klikkiri.co – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan meminta agar PT Vale Indonesia segera menghentikan kegiatan eksplorasi tambang nikel di Blok Tanamalia.

Pasalnya kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia yang saat ini berlangsung di Desa Loeha, Mahalona dan Rante Angin tanpa diawali proses konsultasi publik dan persetujuan masyarakat setempat.

Iklan — Scroll untuk baca artikel kami
Example 300x600
Iklan — Scroll untuk baca artikel kami

Kepala Departemen Eksternal WALHI Sulsel, Rahmat Kottir mengatakan bahwa sebagai perusahaan yang saham mayoritas dimiliki perusahaan asing seperti Kanada, Brazil dan Jepang, PT Vale Indonesia wajib menjalankan prinsip-prinsip HAM dan kebijakan perlindungan sosial dan lingkungan internasional (IFC) dalam menjalankan kegiatan bisnis.

Terutama yang beririsan dengan kegiatan ekonomi masyarakat, kata Rahmat, sehingga kegiatan eksplorasi tambang nikel PT Vale Indonesia harus terlebih dahulu berkonsultasi dan meminta persetujuan kepada masyarakat.

Klikkiri.co
Objek ekplorasi PT Vale di Tanamalia. (*)

 

“Oleh karena itu, kami minta kepada CEO PT Vale Indonesia, Febri untuk segera menghentikan eksplorasi tambang nikel di sebelah barat Danau Towuti. Selain itu, kami minta PT Vale Indonesia segera melaksanakan konsultasi publik bersama petani dan perempuan di Desa Loeha dan Desa Rante Anging tanpa melibatkan personil TNI dan Polri,” kata Rahmat.

Saat ini, lanjut Rahmat, kegiatan eksplorasi PT Vale Indonesia telah meresahkan ribuan petani dan buruh tani Merica di Lemo-lemo, Lengkona, Taparammatti, Barung Lemo dan Batubassi. Namun para petani masih bersabar dan menunggu agar PT Vale Indonesia berhenti mengebor kebun merica masyarakat tanpa izin.

“Kalau dari hasil pemantauan yang kami lakukan di lapangan, tidak ada bedanya perusahaan China di Morowali dengan PT Vale Indonesia di Lutim dalam menjalankan bisnis tambang nikel. Keduanya tidak ada yang menghormati HAM dan menjalankan tata kelola lingkungan dan sosial yang benar,” tutur Rahmat.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak pernah dianggap sebagai entitas yang harus dimintai pendapat dan persetujuannya. Petani hanya dianggap sebagai komunitas biasa yang tidak punya hak sama sekali.

Sementara, perusahaan-perusahaan pemegang saham PT Vale Indonesia dan pemerintah perusahaan tersebut selalu mempopulerkan diri sebagai negara yang paling menghormati HAM dan paling menjaga lingkungan. Bahkan tidak sedikit dana yang dikucurkan ke Indonesia untuk memperkuat HAM di Indonesia.

Namun faktanya, lanjut Rahmat, perusahaan tambang mereka di Indonesia tidak menghormati HAM, tidak menghormati keberadaan dan hak-hak petani perempuan yang terdampak maupun yang akan terdampak kegiatan bisnis tambang mereka.

“Oleh karena itu, kami mendesak Sumitomo Metal Mining, Vale Canada Ltd dan pemerintah Kanada, Brazil dan Jepang untuk segera memerintahkan CEO PT Vale Indonesia untuk lebih menghormati masyarakat lokal dan menghentikan kegiatan eksplorasi. Kongkritnya, CEO PT Vale Indonesia harus segera berdialog dengan petani di Desa Loeha dan Rante Anging,” ungkapnya.

Rahmat juga mengingatkan CEO PT Vale Indonesia untuk tetap memenuhi tanggung jawab mereka kepada masyarakat Asuli yang sampai saat ini terdampak kegiatan tambang PT Vale Indonesia.

WALHI Sulsel juga perlu mengingatkan bahwa masih ada banyak tanggungan PT Vale Indonesia yang belum mereka jalankan. Pertama relokasi kebun masyarakat, kedua menghentikan pencemaran air masyarakat.

“Jangan berharap bahwa ketika Vale memberi uang ke masyarakat 50 juta per kepala keluarga, tanggung jawab mereka telah selesai. Tanggungjawab sebenarnya PT Vale Indonesia kepada masyarakat Asuli adalah relokasi lahan perkebunan. Itu yang akan kami kejar terus,” kuncinya. (*)

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300