Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Peneliti Kota Sehat dan Pernah Jadi Profesor Termuda Unhas: Ini Profil Sukri Palutturi

×

Peneliti Kota Sehat dan Pernah Jadi Profesor Termuda Unhas: Ini Profil Sukri Palutturi

Sebarkan artikel ini
Dekan FKM Unhas Prof Sukri Palutturi.
Example 325x300

klikkiri.co – Dari sebuah wilayah bernama Tanatoa, pada 29 Mei 1972, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi salah satu pemikir penting dalam kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Prof. Sukri Palutturi tumbuh dengan kesadaran bahwa kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan persoalan sistem, kebijakan, dan lingkungan tempat manusia hidup. Kesadaran inilah yang kemudian menuntunnya menapaki jalan panjang di dunia kesehatan masyarakat.

Langkah akademiknya dimulai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Tahun 1998, ia menuntaskan pendidikan sarjana di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Empat tahun berselang, ia kembali lulus dari institusi yang sama untuk jenjang magister. Namun bagi Sukri, belajar tidak berhenti di ruang kelas yang sudah dikenalnya. Ia melangkah lebih jauh, menyeberang benua ke Australia, memperdalam ilmu Public Health di Griffith University hingga meraih gelar Master of Science in Public Health pada 2009 dan doktor pada 2013.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Pengalaman akademik internasional itu membentuk cara pandangnya yang khas: kesehatan harus dilihat secara holistik, lintas sektor, dan berbasis bukti. Tidak mengherankan jika kemudian ia dikenal sebagai peneliti pertama yang mengembangkan konsep Kota Sehat (Healthy Cities) di Indonesia—sebuah pendekatan yang menempatkan kebijakan publik, tata kota, dan partisipasi masyarakat sebagai kunci derajat kesehatan.

Karier akademiknya di Universitas Hasanuddin dimulai sejak 2001 sebagai dosen tetap di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Perlahan namun konsisten, ia menapaki jenjang kepangkatan fungsional hingga meraih gelar Guru Besar pada 1 Oktober 2017. Prestasi ini semakin istimewa karena menempatkannya sebagai salah satu dari lima profesor termuda di Universitas Hasanuddin, bahkan di tingkat nasional.

Di balik pencapaian itu, Prof. Sukri dikenal sebagai akademisi yang produktif dan berpengaruh. Dengan H-Indeks Scopus 12 dan lebih dari 2.000 sitasi, gagasan-gagasannya tentang kebijakan kesehatan, healthy settings, dan healthy cities tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi juga menjadi rujukan dalam praktik dan pengambilan kebijakan. Di Google Scholar, H-Indeksnya mencapai 25—sebuah angka yang mencerminkan luasnya dampak karya ilmiahnya.

Namun perjalanan Prof. Sukri tidak hanya tentang riset dan publikasi. Ia juga tumbuh sebagai pemimpin institusi. Pernah menjabat sebagai Sekretaris Departemen, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, hingga akhirnya dipercaya menjadi Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin untuk periode 2022–2026. Di bawah kepemimpinannya, FKM Unhas yang telah terakreditasi A terus didorong menjadi pusat pengembangan kebijakan kesehatan yang responsif terhadap tantangan zaman.

Kiprah kepemimpinannya diperkaya dengan pengalaman strategis di luar kampus. Pada 2022, ia mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXIII Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Dari sana, perspektif kebangsaan dan ketahanan nasional semakin menguat dalam cara pandangnya terhadap kesehatan sebagai bagian dari ketahanan bangsa.

Meski kini menyandang jabatan dekan dan guru besar, Prof. Sukri tetap menjalani keseharian yang membumi. Dari rumahnya di Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea, ia menjalani peran ganda sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik. Baginya, jabatan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas dampak.

Dalam setiap langkahnya, Prof. Sukri Palutturi membawa pesan sederhana namun kuat: kesehatan masyarakat tidak bisa dibangun oleh satu disiplin atau satu institusi saja. Ia harus dirancang, dipikirkan, dan diperjuangkan bersama—berbasis data, kebijakan yang adil, dan kepedulian terhadap lingkungan tempat manusia hidup.

Dari Tanatoa hingga ruang-ruang pengambilan kebijakan, perjalanan Prof. Sukri adalah kisah tentang konsistensi, ilmu pengetahuan, dan pengabdian. Sebuah potret akademisi yang tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga makna.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300