Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Ian: Golkar Sulsel Butuh Konsolidator, Bukan Aktor Tekanan Politik

×

Ian: Golkar Sulsel Butuh Konsolidator, Bukan Aktor Tekanan Politik

Sebarkan artikel ini
Kader Muda Partai Golkar, Ian Kamarudin.
Example 325x300

klikkiri.co — Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan terus menghangat. Di tengah munculnya dukungan dan manuver politik dari sejumlah DPD II, kader muda Partai Golkar, Ian Kamarudin atau yang akrab disapa Ian Anarki, menyoroti adanya narasi yang dinilai mencoba membangun framing intimidatif terhadap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

Ian membantah pandangan yang menyebut penurunan suara Golkar di Sulawesi Selatan disebabkan oleh sikap DPP yang dianggap kerap “memaksakan kehendak” dalam momentum Musda sebelumnya. Menurutnya, argumentasi tersebut keliru dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap doktrin karya kekaryaan Partai Golkar.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

“Jangan mencoba mengintimidasi DPP dengan narasi seolah-olah setiap keputusan pusat menjadi penyebab turunnya suara partai. Itu argumentasi simplistis dan tidak mencerminkan semangat kaderisasi Golkar,” ujar Ian, Kamis.

Menurutnya, problem utama Golkar di sejumlah daerah justru terletak pada lemahnya konsolidasi internal di tingkat DPD II. Banyak elite daerah, kata dia, lebih sibuk menyusun skema politik menjelang Musda dibanding memperkuat kerja-kerja organisasi dan menjaga militansi kader di akar rumput.

“Kalau hari ini ada penurunan elektoral di beberapa wilayah, maka yang harus dievaluasi adalah kepemimpinan daerah yang gagal melakukan konsolidasi partai secara maksimal. Jangan semua dibebankan ke DPP,” tegasnya.

Ian menilai, tradisi Partai Golkar sejak dahulu dibangun melalui garis komando organisasi yang solid, kolektif, dan berjenjang. Karena itu, komunikasi politik antara DPD dan DPP tidak semestinya dibangun dengan bahasa tekanan ataupun insinuasi politik.

“Golkar ini partai karya, bukan forum gertak politik. Kader yang memahami sejarah dan doktrin Golkar pasti tahu bahwa loyalitas organisasi dan kemampuan membesarkan partai di daerah adalah ukuran utama,” katanya.

Ia bahkan menegaskan bahwa kandidat atau kelompok yang membangun framing politik dengan nuansa intimidatif terhadap DPP tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan.

“Saya kira kandidat yang melakukan skema framing intimidatif terhadap DPP tidak layak memimpin Golkar Sulawesi Selatan ke depan. Golkar membutuhkan pemimpin pemersatu yang mampu membangun konsolidasi partai, bukan figur yang sibuk memainkan tekanan opini demi kepentingan Musda,” lanjut Ian.

Menurutnya, Musda seharusnya menjadi momentum memperkuat soliditas partai menuju agenda politik nasional mendatang, bukan justru memperuncing ketegangan internal antara daerah dan pusat.

“Jangan karena ambisi Musda lalu energi partai habis untuk saling menekan. Yang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini adalah kerja konsolidasi nyata, memperkuat kaderisasi, dan mengembalikan kekuatan partai di tengah masyarakat,” tutupnya.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300