Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

Taruna Ikrar: Penyalahgunaan Antibiotik Bisa Mengembalikan Dunia ke Era Sebelum Penemuan Antibiotik

×

Taruna Ikrar: Penyalahgunaan Antibiotik Bisa Mengembalikan Dunia ke Era Sebelum Penemuan Antibiotik

Sebarkan artikel ini
Example 325x300

klikkiri.co — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Dr. Taruna Ikrar mengingatkan bahwa resistensi antibiotik telah berkembang menjadi ancaman kesehatan global yang dapat menghapus berbagai kemajuan dunia kedokteran. Peringatan itu disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Jumat (31/7), di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika.

Mewakili Rektor Universitas Sriwijaya, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD., K-R., M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BPOM RI di kampus Unsri. Menurutnya, kuliah umum tersebut memberikan wawasan strategis bagi sivitas akademika mengenai tantangan kesehatan global sekaligus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan regulator dalam pengembangan riset, inovasi, serta hilirisasi hasil penelitian untuk kepentingan masyarakat.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Menurut Taruna Ikrar, antibiotik merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah kedokteran. Namun, penggunaan yang tidak rasional telah mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap obat sehingga infeksi yang sebelumnya mudah diobati berpotensi kembali mematikan.

“Resistensi antibiotik adalah pandemi senyap. Jika tidak dikendalikan sejak sekarang, dunia dapat memasuki era pasca-antibiotik, ketika infeksi biasa kembali menjadi penyebab kematian. Karena itu, penggunaan antibiotik harus dilakukan secara bijaksana, tepat indikasi, tepat dosis, dan berdasarkan resep tenaga kesehatan,” ujar Taruna.

Taruna menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Antimicrobial Resistance (AMR) sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terbesar bagi kesehatan global. Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan bahwa resistensi antimikroba telah menyebabkan lebih dari 1,2 juta kematian setiap tahun secara langsung, sementara jutaan kematian lainnya berkaitan dengan infeksi yang tidak lagi dapat ditangani secara efektif. Tanpa intervensi yang kuat, beban kesehatan dan ekonomi akibat resistensi antibiotik diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Taruna menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak dapat dihadapi hanya oleh pemerintah atau tenaga kesehatan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan edukasi masyarakat. Karena itu, mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang mampu membangun budaya penggunaan antibiotik secara rasional di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Kampus adalah pusat peradaban dan inovasi. Dari kampus lahir pemikiran-pemikiran besar yang mampu mengubah bangsa. Karena itu, saya mengajak mahasiswa Universitas Sriwijaya menjadi pelopor literasi kesehatan, mengedukasi masyarakat agar tidak membeli antibiotik sembarangan, tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya, dan tidak menggunakan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan virus,” katanya.

Ia menambahkan, BPOM terus memperkuat pengawasan terhadap mutu, keamanan, dan khasiat obat, termasuk antibiotik, melalui pengawasan berbasis sains, digitalisasi sistem registrasi, penguatan laboratorium, serta kolaborasi dengan kementerian, lembaga, perguruan tinggi, dan organisasi profesi. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem kesehatan nasional yang tangguh sekaligus mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pelayanan kesehatan yang berkualitas, inovatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Kuliah umum tersebut juga menjadi momentum memperkuat sinergi BPOM dengan Universitas Sriwijaya dalam pengembangan riset, pendidikan, dan inovasi di bidang obat dan makanan. Taruna menilai kolaborasi antara regulator dan perguruan tinggi merupakan fondasi penting untuk menghadapi tantangan kesehatan masa depan yang semakin kompleks.

Dalam kegiatan tersebut, Taruna Ikrar didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) BPOM dr. Elfi Taruna Ikrar, Sekretaris Utama BPOM Irjen Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., M.H., Staf Khusus Kepala BPOM dr. Wachyudi Muchsin, S.Ked., S.H., M.Kes., C.Med., Kepala Biro Umum Asih Lisa, Kepala Biro Sumber Daya Manusia Irwansyah, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Lynda K. Wardhani, Direktur Pengawasan Pangan Olahan Sondang, serta jajaran BPOM lainnya.

Melalui kuliah umum tersebut, BPOM berharap lahir semakin banyak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kesehatan masyarakat. Di tengah meningkatnya ancaman resistensi antibiotik, edukasi, riset, dan kolaborasi dinilai menjadi investasi paling penting untuk melindungi kesehatan bangsa sekaligus memastikan antibiotik tetap efektif bagi generasi Indonesia di masa depan.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300