Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Prof Sukri Palutturi: Ketahanan Nasional Tak Bisa Dibangun Sendiri, Kolaborasi Jadi Kunci di Era Disrupsi

×

Prof Sukri Palutturi: Ketahanan Nasional Tak Bisa Dibangun Sendiri, Kolaborasi Jadi Kunci di Era Disrupsi

Sebarkan artikel ini
Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D
Example 325x300

klikkiri.co— Ketahanan nasional memasuki babak baru. Di tengah percepatan teknologi digital, derasnya arus informasi, perubahan geopolitik, hingga munculnya ancaman nonmiliter, ketahanan bangsa tidak lagi cukup dimaknai sebagai urusan pertahanan dan keamanan semata.

Ketahanan nasional kini menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan. Karena itu, membangunnya membutuhkan kerja bersama—pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Pesan tersebut disampaikan Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.Sc.PH., Ph.D., Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal I DPP IKAL Lemhannas RI, saat menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan GELORA 2026, Kamis (27/8/2026), di Universitas Hasanuddin.

Dialog yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAPEM) FISIP Universitas Hasanuddin tersebut mengangkat tema “Diskursus Ketahanan Nasional di Era Disrupsi: Kolaborasi Strategis dalam Menghadapi Dinamika Bernegara.”

Di hadapan peserta, Prof. Sukri mengajak mahasiswa melihat ketahanan nasional dari perspektif yang lebih menyeluruh melalui konsep Astagatra.

Dalam perspektif tersebut, ketahanan nasional merupakan sinergi dari seluruh aspek kehidupan bangsa yang meliputi geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.

Menurut Prof. Sukri, pendekatan Astagatra menjadi penting karena tantangan bangsa saat ini tidak berdiri sendiri. Satu persoalan dapat saling berkaitan dan memengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Dari Ancaman Fisik ke Disrupsi Digital

Era disrupsi telah mengubah wajah ancaman terhadap sebuah negara.

Jika dahulu ancaman lebih mudah dikenali dalam bentuk konflik bersenjata, kini tantangan dapat hadir melalui ruang digital dan berbagai persoalan sosial-ekonomi. Serangan siber, hoaks, disinformasi, manipulasi informasi, polarisasi sosial, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga berbagai ancaman nonmiliter menjadi bagian dari dinamika yang harus diantisipasi.

Kondisi tersebut, kata Prof. Sukri, menuntut perubahan cara berpikir dalam membangun ketahanan nasional.

Pendekatan yang hanya bersifat reaktif tidak lagi cukup. Bangsa Indonesia perlu membangun sistem yang lebih antisipatif, preventif, adaptif, dan kolaboratif.

 

“Tidak ada aktor tunggal dalam membangun ketahanan nasional. Ketahanan nasional adalah kerja bersama.”

Pesan itu menjadi salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam pemaparan Prof. Sukri.

Ia menekankan, pemerintah memiliki peran melalui kebijakan dan tata kelola. Akademisi berkontribusi melalui pengetahuan, riset, dan inovasi. Dunia usaha memperkuat ketahanan ekonomi. Media memiliki tanggung jawab menjaga integritas informasi. Sementara masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membangun resiliensi sosial.

Semua elemen tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling menguatkan.

Kampus dan Generasi Muda

Selain kolaborasi lintas sektor, Prof. Sukri memberi perhatian khusus pada dunia pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi ketidakpastian dan perubahan yang semakin cepat.

Kampus, katanya, tidak cukup hanya mencetak sarjana. Perguruan tinggi juga harus melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki literasi digital, berkarakter kuat, menjunjung nilai kebangsaan, dan mampu menciptakan inovasi.

“Kampus bukan hanya tempat mencetak sarjana. Kampus adalah salah satu benteng ketahanan bangsa.”

Pesan tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian dari kekuatan bangsa.

Di tengah banjir informasi dan perkembangan teknologi yang bergerak cepat, generasi muda dituntut mampu membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, memahami perubahan sosial, serta tetap memiliki pijakan nilai kebangsaan.

Menatap Indonesia Emas 2045

Dialog Kebangsaan GELORA 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa ketahanan nasional merupakan tanggung jawab bersama.

Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi juga masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai guncangan.

Ketahanan bangsa harus dibangun dari berbagai sisi, diperkuat melalui seluruh dimensi Astagatra, dan dijaga melalui kolaborasi lintas elemen.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seluruh elemennya untuk bergerak bersama menghadapi perubahan.

Di tengah era yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, kolaborasi bukan lagi pilihan tambahan. Ia menjadi salah satu fondasi utama untuk memastikan Indonesia tetap tangguh, adaptif, dan berdaulat dalam menghadapi masa depan.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300