Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Mengenal Lebih Dekat Satriya Madjid: Dari Meja Perencanaan ke Panggung Kepemimpinan Publik

×

Mengenal Lebih Dekat Satriya Madjid: Dari Meja Perencanaan ke Panggung Kepemimpinan Publik

Sebarkan artikel ini
Ir. H. Satriya Madjid, ST, MSP.
Example 325x300

klikkiri.co – Dunia pembangunan tidak hanya berbicara tentang beton, jalan, gedung, dan infrastruktur. Di balik setiap proyek, ada gagasan tentang bagaimana sebuah wilayah ditata, bagaimana ruang dimanfaatkan, serta bagaimana pembangunan memberi manfaat bagi masyarakat.

Di ruang itulah perjalanan Ir. H. Satriya Madjid, ST, MSP, dibentuk.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

Lahir di Wajo, 28 Agustus 1977, Satriya tumbuh menjadi seorang profesional yang menekuni dunia perencanaan wilayah dan konstruksi. Namun, perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa ia tidak berhenti sebagai seorang praktisi teknis. Dari ruang perencanaan, ia perlahan bergerak ke ruang organisasi, kebijakan, hingga panggung publik.

Jejak tersebut menjadikannya dikenal bukan hanya sebagai seorang profesional di sektor konstruksi, tetapi juga sebagai figur yang aktif membangun ekosistem jasa konsultansi dan terlibat dalam berbagai agenda strategis pembangunan di Sulawesi Selatan.

Fondasi akademiknya dimulai dari Universitas “45” Makassar. Di kampus tersebut, Satriya menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Planologi pada 2001. Delapan tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan Magister Perencanaan Wilayah dan Kota dan menyelesaikannya pada 2009.

Pendidikan tersebut membentuk cara pandangnya dalam membaca pembangunan. Baginya, pembangunan fisik tidak dapat dipisahkan dari tata ruang, kebutuhan masyarakat, keberlanjutan, dan keterhubungan antarwilayah.

Untuk semakin memperkuat kapasitas keilmuannya, Satriya kemudian menempuh pendidikan profesi insinyur di Universitas Muslim Indonesia pada 2020. Saat ini, ia juga tengah menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Hasanuddin pada bidang Teknik Sipil.

Latar belakang pendidikan itu menjadi bekal ketika ia mulai terjun lebih jauh dalam berbagai pekerjaan perencanaan dan konstruksi.

Sejumlah proyek strategis pernah menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya. Di antaranya perencanaan Dermaga Polair serta keterlibatan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis. Ada kebutuhan untuk membaca persoalan secara menyeluruh, menghubungkan berbagai kepentingan, serta menerjemahkan gagasan besar pembangunan menjadi perencanaan yang dapat diimplementasikan.

Jejak profesionalnya juga tercatat dalam proyek revitalisasi Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar. Proyek tersebut memiliki dimensi yang lebih luas dibanding pekerjaan konstruksi pada umumnya karena bersinggungan dengan nilai sosial, budaya, keagamaan, dan ruang publik.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Satriya membangun satu pola kerja yang kemudian menjadi ciri dalam kiprahnya: kolaborasi.

Dalam perjalanan profesionalnya, ia berinteraksi dan bekerja sama dengan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi, pelaku usaha, hingga sejumlah tokoh nasional. Di antara nama yang pernah menjadi mitra kerja atau bagian dari jejaring kolaborasinya adalah Dr. (Hc) H.M. Jusuf Kalla, Prof. Hamid Awaluddin, Ir. Bachder Johan, Prof. Batara Surya, serta Andi Iwan Darmawan Aras, S.E., M.Si.

Jejaring tersebut mempertemukannya dengan beragam perspektif mengenai pembangunan. Dari sana, ruang geraknya pun semakin luas.

Satriya kemudian tidak hanya berbicara mengenai proyek, tetapi mulai masuk lebih dalam pada persoalan tata kelola dan kebijakan sektor konstruksi.

Dinamika regulasi menjadi salah satu tantangan yang menurutnya tidak dapat dihindari dalam perkembangan industri jasa konstruksi. Perubahan kebijakan, tuntutan transparansi, akuntabilitas, hingga keterbatasan sumber daya menuntut adanya kemampuan untuk beradaptasi sekaligus membangun komunikasi lintas sektor.

Dalam konteks tersebut, pengalaman sebagai praktisi menjadi modal penting untuk memahami persoalan di lapangan.

Ia kemudian ikut mendorong lahirnya kebijakan strategis di daerah, salah satunya Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2024 tentang Pedoman Pelaksanaan Jasa Konstruksi. Regulasi tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat tata kelola sektor konstruksi di Sulawesi Selatan.

Bagi Satriya, dunia konstruksi bukan hanya tentang bagaimana sebuah proyek diselesaikan, tetapi juga bagaimana ekosistemnya dibangun agar berjalan profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut juga ia bawa dalam berbagai forum.

Satriya tercatat aktif sebagai narasumber dalam seminar, forum diskusi, pelatihan, kuliah umum, hingga berbagai kegiatan tingkat nasional. Tema yang dibawanya beragam, mulai dari pengembangan jasa konstruksi, tata kelola proyek, pencegahan korupsi di sektor infrastruktur, hingga isu strategis pembangunan wilayah.

Di ruang-ruang akademik dan profesional itu, ia tidak hanya berbicara sebagai seorang praktisi, tetapi juga membagikan pengalaman kepada generasi muda dan pelaku industri.

Kiprah Satriya semakin menemukan ruangnya ketika ia dipercaya memimpin organisasi profesi.

Ia menjabat sebagai Ketua DPP Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode, yakni 2018–2022 dan 2022–2026.

Posisi tersebut menempatkannya pada ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan profesionalisme, meningkatkan kapasitas anggota, memperkuat advokasi industri, sekaligus mendorong penerapan standar etika dalam dunia jasa konsultansi.

Di luar dunia profesi, kepemimpinannya juga berkembang melalui organisasi alumni.

Satriya dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Bosowa “45” (Unibos). Melalui wadah tersebut, ia ikut memperkuat jejaring alumni dan mendorong agar sumber daya alumni dapat mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Kiprahnya juga bersentuhan dengan sejumlah organisasi lainnya, termasuk KADIN sebagai Wakil Ketua Umum, Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan.

Ruang-ruang tersebut memperlihatkan satu hal: perjalanan Satriya Madjid tidak berhenti pada profesi.

Dari dunia konstruksi, ia bergerak menuju ruang organisasi. Dari ruang organisasi, ia masuk ke wilayah kebijakan. Dan dari sana, ia semakin sering hadir dalam ruang publik untuk menyampaikan gagasan mengenai pembangunan.

Perjalanan itu pula yang membuat sosok Satriya memiliki perspektif yang relatif utuh. Ia memahami pembangunan dari meja perencanaan, mengenal persoalan dari lapangan, merasakan dinamika dunia usaha dan profesi, sekaligus bersentuhan dengan proses pengambilan kebijakan.

Pada akhirnya, jejak panjang Ir. H. Satriya Madjid, ST, MSP, adalah perjalanan seorang profesional yang terus memperluas ruang pengabdiannya.

Ia berangkat dari disiplin planologi, tumbuh di dunia konstruksi, mengembangkan diri melalui organisasi profesi, memperkuat jejaring sosial melalui organisasi alumni dan kemasyarakatan, lalu mengambil bagian dalam percakapan yang lebih besar tentang pembangunan.

Bagi seorang perencana dan praktisi konstruksi, panggung publik mungkin merupakan ruang yang berbeda. Namun, bagi Satriya, keduanya memiliki tujuan yang sama: memastikan pembangunan tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi juga memiliki arah, tata kelola, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Dari ruang perencanaan ke panggung publik, jejak Satriya Madjid menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat tumbuh dari pengalaman panjang, kerja kolaboratif, dan keberanian untuk terus memperluas pengabdian.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300