Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel Kami
Example 325x300
Example floating
Example floating
Berita

PB IPMIL Raya Kecam Teror Bertopeng di Kampus Makassar: Mahasiswa Luwu Tak Akan Terprovokasi

×

PB IPMIL Raya Kecam Teror Bertopeng di Kampus Makassar: Mahasiswa Luwu Tak Akan Terprovokasi

Sebarkan artikel ini
Sekelompok pria bertopeng memasuki kampus-kampus.
Example 325x300

klikkiri.co—Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (PB IPMIL Raya) menyatakan keprihatinan dan mengecam keras aksi kekerasan oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK) bertopeng dan bersenjata tajam yang menyatroni sejumlah kampus di Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir.

Ketua Umum PB IPMIL Raya, Abd. Hafid, menilai tindakan tersebut merupakan bentuk nyata dari premanisme dan provokasi yang mengancam iklim akademik, ketertiban sosial, serta persatuan mahasiswa di Sulawesi Selatan.

Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel
Example 300x600
Iklan — Scroll Untuk Baca Artikel

“Kami mengecam dengan tegas aksi kekerasan dan intimidasi di ruang-ruang kampus. Kampus adalah ruang ilmu dan diskusi, bukan medan kekacauan atau arena teror oleh oknum tak bertanggung jawab. Kami mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas dalang dan pelaku di balik peristiwa ini,” ujarnya.

Seruan Menahan Diri dan Jaga Kondusivitas

PB IPMIL Raya juga mengimbau seluruh mahasiswa asal Tana Luwu di bawah koordinasi organisasi ini untuk tidak terprovokasi dan tetap menjaga kondusivitas. Hafid mengingatkan agar kader IPMIL tidak terpancing oleh aksi brutal kelompok tak dikenal yang beroperasi tanpa identitas yang jelas.

“Kita jangan terjebak dalam pusaran konflik yang sengaja diciptakan. Aksi bertopeng dan berhelm tanpa memperlihatkan identitas adalah bentuk keberanian semu. Itu tindakan pengecut dan licik,” tegas Hafid.

Ia menambahkan, kehadiran mahasiswa Luwu di Makassar bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari masyarakat Sulawesi Selatan yang berhak hidup dan menuntut ilmu di tanahnya sendiri.

“Kami ingin tegaskan: Mahasiswa Luwu bukan pendatang. Kami bagian dari bumi Sulawesi Selatan. Tidak ada satu pun kelompok yang berhak mengklaim Makassar sebagai miliknya dan seenaknya mengintimidasi mahasiswa lain,” lanjut Hafid.

Perang Gagasan, Bukan Kekerasan

PB IPMIL Raya menegaskan bahwa perbedaan pandangan seharusnya disampaikan dalam ruang intelektual dan bukan dengan kekerasan. Hafid menyatakan pihaknya siap berdialog dalam forum ilmiah, namun menolak keras segala bentuk intimidasi fisik.

“Kalau ingin berperang, mari kita berperang dengan ide dan gagasan. Kami terbuka untuk debat ilmiah, tetapi menolak tindakan fisik yang tidak mencerminkan sikap intelektual,” katanya.

Desakan untuk Penegakan Hukum Serius

Lebih lanjut, PB IPMIL Raya mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya melakukan patroli, tetapi juga menindak tegas pelaku serta mengungkap kemungkinan keterlibatan aktor intelektual di balik aksi teror ini.

“Kami menduga ada motif tersembunyi dan aktor yang sengaja menggunakan kelompok bertopeng untuk menciptakan konflik di kalangan mahasiswa. Ini harus diusut tuntas, tidak bisa dibiarkan,” tambah Hafid.

Ajakan Persatuan Mahasiswa Sulsel

Sebagai organisasi kedaerahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, intelektualitas, dan persaudaraan, PB IPMIL Raya mengajak seluruh elemen mahasiswa di Sulsel untuk menjaga perdamaian, menolak kekerasan, dan melawan segala bentuk adu domba.

“Jangan biarkan kita menjadi alat dari pihak-pihak yang ingin menghancurkan integrasi mahasiswa Sulawesi Selatan. Kita harus tetap satu dalam nalar, etika, dan kemanusiaan,” tutup Hafid.

Respons atas Video Kekerasan yang Beredar

Hafid juga menyoroti beredarnya video dan foto di media sosial yang memperlihatkan dengan jelas aksi teror yang dilakukan kelompok bertopeng terhadap mahasiswa lain.

“Dalam dokumentasi yang beredar, wajah dan tindakan para pelaku sudah sangat jelas. Kami mendesak aparat untuk segera menangkap mereka sebelum jatuh korban,” tegasnya.

Hafid menambahkan, jika aparat tidak mampu memberikan jaminan keamanan bagi mahasiswa Luwu di Makassar, maka pihaknya siap mengambil langkah untuk membela diri.

“Jika aparat tidak mampu menjamin keselamatan kami, maka kami berhak membela diri dan siap menghadapi skenario terburuk,” pungkasnya.

Example 325x300
Example 120x600
Example 325x300